Aku sudah biasa.
Menangis bahagia, melihatnya dengan segala angan dikepala.
Sesekali tersenyum mengimajinasi sosoknya yang tak bisa terjamah walau dia nyata.
Merenungkan diri menganggap apalah artiku untuknya, dan dimana keberadaanku dihatinya.
Menangis terisak saat aku tersudut disalahkan oleh perasaan yang menggebu karena ingin memilikinya.
Aku sudah biasa.
Mengulas lagi perbincangan tidak penting antara kita.
Menerawang tawanya yang aku tidak pernah tau apa artinya.
Memandang diam diam seakan aku tidak akan pernah memilikinya, selamanya.
Sudah terlalu biasa.
Aku menjerit membungkam mulut, meneriakkan apa yang aku rasa.
Ingin menertawakan kebodohanku, ketika aku terlalu dalam bercinta dengan imajinasiku untuk sekedar mempunyai ikatan lebih dari sebelumnya.
Menertawakan takdir ketika aku dipertemukan dengannya.
Oh, ini sudah terlalu biasa untukku.
Mengaguminya, sekedar memuja sosoknya.
Menanti lebih dari pengharapan yang ada di otakku.
Menunggu dia mencintaiku lebih dari yang aku tau.
Dan ternyata, selama ini aku sudah terbiasa...
Dihempaskan dan diacuhkan oleh keadaan. Dan juga olehnya.
Terimakasih,
:)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar